Larasati
Syawal kian mendekat, menggantikan dia yang selama ini aku lewati dengan berdiam bisu.
Kau tahu...
Dia masih saja terbelenggu,
diantara rusuk dan juga paru.
Masih tersisa sedikit pilu dan juga tabu untuk memecah lara menjadi asa.
"Larasati" kata orang-orang.
Berat...
Terasa cukup berat untuk mengucap kata "Maaf" yang mampu memecah hening,
Yang sedemikian lama sudah tak bergeming.
Jujur, aku rindu.
Untuk kembali menukar canda dengan tawa.
Jujur, aku rindu.
Untuk kembali tersenyum dengan jantung yang berdegup gugup.
"Semoga saja kita bisa kembali tersenyum lepas saat mata saling tatap tanpa adanya lara yang mencuat". Harapku dalam do'a.
Comments
Post a Comment