Dan the lion

Pernah tertatih melangkah tak pasti membawa serta hati yang tergores luka.

Pernah juga kutawarkan pada dirimu untuk kau rawat hingga pulih, sampai pada masa dimana kau bisa memiliki seutuhnya.

Namun... 
Pada saat itu, kau terlalu takut untuk juga ikut terluka. 

"Ah sudahlah, mungkin hanya aku dan waktu yang bisa." Ucapku putus asa.


Seiring detik berganti menit hingga Hari menuju Triwulan Akhir. Dia datang menghampiri, Sang Pemilik Kacamata Tanpa Lensa, tiba-tiba dengan ketus mengucapkan ;
 "Aku juga ingin kau bahagia".

Tersentak dan tersadar, kata-kata yang terucap dari bibirnya itu begitu menggelegar.

"Kukira sedang mengarungi lautan waktu bersama orang-orang,
Ternyata aku sendirian di zona waktu yang tak berdetak." Ucapku dalam benak.

Ia berdiri di sebilah papan yang mengapung pada zona waktu tak berdetak.
Terombang-ambing oleh ombak yang sewaktu-waktu juga bisa membuatnya terjerembab.

Sembari menjulurkan tangan ia berkata ;
"Mari melangkah denganku dengan syarat lupakan masa-masa itu, masa dimana yang membuatmu nyaris sempurna." Dengan senyum simpul terlukis di wajahnya.


"Jika itu susah untuk kau lakukan, cobalah pura-pura lupa, karena saya disini sedang berjuang untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupmu." Lanjutnya tegas.

Comments

Popular Posts