Yang mulia, Ratu.

Kau tahu, mengapa sang raja tidak lagi ingin membelai bahkan enggan menatap kearahmu, duhai Ratu?

Karena beliau tahu, semua keluh kesahmu bukan lagi padanya yang kau tuju.

Karena beliau tahu, ada seorang Raja dalam bayangan di kerajaannya di berbagai sudut penjuru.


Kau tahu, sejatinya beliau sedang menghukum dirinya sendiri atas kelakuanmu, duhai Ratu.

Dia diam...
Dia diam padamu BUKAN dikarenakan oleh usahanya memperluas kerajaan lalu menemukan sesosok selir baru.
Dia sedang teracuni oleh tingkahmu, sadari itu.

Cukup...
Jangan lagi kau hukum dia dengan segala kekuranganmu...
Bersujud lah, menghamba lah padanya, mohon lah ampunan sebelum terlambat...
Cukupkan saja semua sandiwara mu itu.

Maafkan ucapanku sudah lancang padamu, duhai Ratu.
Namun, kau harus tahu semua itu.

"Aku tahu semua itu, namun Dia... 
Ada seseorang di luar sana yang sedang menarik perhatiannya, setiap malam langkah kakinya menuju gubuk reyot di arah barat daya. Setiap malam jerih payahnya di pagi hari ia habiskan kesana." Keluh ratu pada nalar yang tersisa.

"Ratu-ku. Kau tahu betul siapa pemilik gubuk tersebut, bukan? Dia adalah seseorang yang sangat spesial untuk Baginda Raja, Dia yang pernah menolong Baginda Raja yang kejang-kejang hampir mati keracunan saat di hutan berburu kijang... Semua yang beliau lakukan tidak lain untuk membalas budi, beliau berhutang nyawa pada wanita tua renta tersebut." Jawab diri dari balik cermin.


Comments

Popular Posts