Stage 7th : Acceptance


Sejatinya kita memang sudah banyak memiliki ketidaksamaan, hanya saja aku terlalu naif dan memaksakan untuk tetap mencintai dengan harap seiring waktu kau dan aku menjadi kita; satu visi, satu hati, dan satu mimpi.


Detik terus berdetak, rona jingga disore itu tak lagi menghangatkan. Dengan sepihak dirimu memutuskan untuk berhenti berkomunikasi memberikan sesak penuh tanya; "dimana letak salahnya diri ini".


Berkali-kali mencoba untuk pulih sendiri nyatanya diri yang penuh duri ini telah lama mati, bahkan telah tiada jauh sebelum aku mengenalmu.

Tak sekalipun aku menyalahkan atas keputusanmu yang mungkin memang yang terbaik untuk kita tidak lagi bersama.


Berkali-kali aku bermunajat kepadanya, mengadukan perlakuan-perlakuanmu yang kuanggap sebagai kejahatan, yang berakhir dengan aku memaafkan dan memintakan ampun kepada-Nya.


Selamat jalan, selamat tinggal.

Sampai jumpa di kebetulan yang tidak disengaja lainnya. Aku masih disini, bertemankan sepi dan mimpi-mimpi yang menuntut akan realisasi.


Selamat berlayar.


Kelak—

 Aku akan menyusul, suatu hari nanti; ketika aku sudah siap nan cakap untuk menjadi Nahkoda yang andal.


Sayonara, Deli O' Niana.


















Aitakatta.

Comments

Popular Posts